Perempuan Sebagai Aktor Strategis Dalam Pembangunan Bangsa

MANUVER NEWS | Diskursus mengenai perempuan seakan tak akan pernah ada habisnya, dewasa ini peran perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata, meskipun hingga saat ini perempuan masih dikategorikan sebagai kaum rentan selain daripda anak-anak, karena berbagai permasalahan yang mengobjektifikasikan perempuan.

Sebagai perempuan Elsa Ketua Umum HMI Cabang Cianjur sepakat dengan pernyataan Najwa Shihab “Perempuan seakan selalu dihadapkan pada sebuah pilihan,“ mengapa perempuan selalu dihadapkan pada sebuah pilihan? padahal perempuan sama halnya dengan subjek hukum lain, ia berhak mendapatkan apa yang dimimpikannya tanpa harus bingung memilih.

Elsa juga berpendapat, menjadi perempuan di abad 21 merupakan tantangan besar sekaligus mempunyai kesempatan yang luas untuk dapat turut serta dalam pembangunan bangsa. Secara historis, Indonesia yang lekat dengan budaya patriarki dan pemikiran-pemikiran konservatif yang masih langgeng hingga kini, harus sedikit-demi sedikit mulai diubah dengan jiwa kepemimpinan dan kepiawaian perempuan dalam wilayah-wilayah publik, hal ini dapat dilihat dari bukti nyata banyaknya organisasi atau lembaga baik independen ataupun pemerintahan, yang dipimpin perempuan.

Kemudian selain itu, melalui berbagai kebijakan pemerintah, perempuan dapat turut serta mengisi posisi strategis sehingga kesempatan untuk menyuarakan pendapat perempuan kian terbuka lebar. Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Jusuf Kalla pada 2014-2019, perempuan kian diberdayakan dengan ditetapkannya peraturan mengenai kuota 30% untuk keterwakilan perempuan dalam politik. Dalam sebuah forum Trading Development and Gender Equality yang berlangsung di sela Asian Development Bank Annual Meeting 2019 di Nadi, Fiji Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Menteri PPN/ Bappenas) menyebutkan kaum perempuan adalah aset, potensi, dan investasi penting bagi Indonesia yang dapat berkontribusi secara signifikan sesuai kapabilitas dan kemampuannya.

Lebih mengerucut, Menurut Elsa, “Dalam konteks pembangunan, pengarusutamaan gender, dan pemberdayaan perempuan begitu erat kaitannya dengan memperbaiki kualitas generasi penerus bangsa, karena perempuan dikenal sebagai madrasatul ula atau pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Perempuan selalu diberikan doble standart dalam kehidupannya, selain harus dapat mengurus rumah tangga, tidak sedikit perempuan juga kini dituntut untuk berperan dalam membantu perekonomian. Banyak profesi yang semula hanya ditunjukan dan dikerjakan hanya oleh lelaki, kini batasan dan pandangan tersebut dapat dikejawantahkan melalui peran peran perempuan dalam posisi strategis, semisal CEO, Pembawa acara talkshow, supir ojek online, motivator, dan lain sebagainya, bahkan pengusaha sukses di bidangnya, yang dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas.” tegasnya.

Selain itu banyak dari perempuan masa kini yang lebih sadar betapa pentingnya mengenyang pendidikan setinggi mungkin, terlepas dia memutuskan untuk berkarir ataupun sebagai ibu rumah tangga. Perempuan dapat menjadi apapun yang mereka inginkan, peran strategisnya dapat dikatakan merupakan aspek pendukung yang penting bagi pembangunan suatu bangsa, dan pada hari 21 April setiap tahun, menjadi pengingat perempuan nusanntara bahwa perempuan dapat menikmati pendidikan dan kesempatan yang sama dalam berbagai wilayah berkat perjuangan para pahlawan, terkhusus R.A Kartini.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *